Back To Top

Google+ Followers

Thursday, 31 October 2013

Lama dan waktu pemilihan wawancara yang tepat

Blog Panduan Pembuatan Skripsi
Field & Morse (1985 dalam Holloway & Wheeler, 1996) menyarankan bahwa wawancara harus selesai dalam satu jam. Sebenarnya waktu wawancara bergantung pada partisipan. Peneliti harus melakukan kontrak waktu dengan partisipan, sehingga mereka dapat merencanakan kegiatannya pada hari itu tanpa terganggu oleh wawancara, umumnya partisipan memang menginginkan waktunya cukup satu jam. Pada pastisipan lanjut usia,  menderita kelemahan fisik, atau sakit mungkin perlu istirahat setelah 20 atau 30 menit.

Partisipan anak-anak  juga tidak bisa konsentrasi dalam waktu yang lama. Peneliti harus menggunakan penilaian mereka sendiri, mengikuti keinginan partisipan, dan menggunakan waktu sesuai dengan kebutuhan topik penelitiannya. Umumnya lamanya wawancara tidak lebih dari tiga jam. Jika lebih dari tiga jam, konsentrasi tidak akan diperoleh bahkan bila wawancara  tersebut dilakukan oleh peneliti berpengalaman sekalipun. Jika dalam waktu yang maksimal tersebut data belum semua diperoleh, wawancara dapat dilakukan sekali lagi atau lebih. Beberapa kali wawancara singkat akan lebih efektif dibanding hanya satu kali dengan waktu yang panjang.

JENIS PERTANYAAN DAN HAL YANG TERKAIT

Ketika menanyakan suatu pertanyaan, pewawancara menggunakan berbagai tehnik komunikasi dan cara bertanya. Patton (1990 dalam Holloway & Wheeler, 1996) membuat daftar jenis pertanyaan, seperti pertanyaan pengalaman (“Dapatkah anda ceritakan tentang pengalaman anda merawat pasien diabetes?”), perasaan (“Bagaimana perasaan anda saat pasien yang pertama anda rawat meninggal?”), dan pengetahuan (“Apa pelayanan yang tersedia untuk kelompok pasien ini?”).

Spradley (1979 dalam Holloway & Wheeler, 1996) membedakan pertanyaan grand-tour dan mini-tour. Pertanyaan grand-tour lebih luas sedangkan mini-tour lebih spesifik. Contoh pertanyaan grand-tour: Dapatkah anda jabarkan kekhususan hari di bangsal? Apa yang anda lakukan jika pasien bertanya tentang kondisinya? Sedangkan contoh pertanyaan mini-tour: Dapatkah anda jabarkan apa yang terjadi jika seorang kolega mempertanyakan keputusan anda?

Pertanyaan dalam penelitian kualitatif sedapat mungkin tidak bersifat mengarahkan tetapi masih berpedoman pada area yang diteliti. Peneliti mengutarakan pertanyaan sejelasnya dan menyesuaikan pada tingkat pemahaman partisipan. Pertanyaan yang ambigu menghasilkan jawaban yang juga ambigu. Pertanyaan dobel lebih baik dihindari; seperti pertanyaan yang tidak tepat, seperti: berapa banyak kolega yang anda miliki, dan apa ide mereka tentang hal ini?

Menurut Devers & Frankel (2000) beberapa faktor mempengaruhi derajat struktur atau jenis instrumentasi yang digunakan dalam penelitian kualitatif. Faktor pertama adalah tujuan penelitin. Bila penelitian lebih bersifat eksplorasi atau pengujian untuk menemukan dan atau menghaluskan teori dan konsep, yang tepat untuk dipertimbangkan adalah protokol yang sangat berakhiran terbuka (open-ended). Faktor kedua adalah luasnya pengetahuan sebelumnya yang sudah ada tentang suatu subyek, misalnya suatu konsep yang telah ada dan digunakan secara luas di dunia, sejauhmana penerapannya di Indonesia. Ketiga, sumber yang tersedia, terutama waktu subyek dan jumlah serta kompleksitas kasus. Terakhir, persetujuan dengan yang berwenang dan penyandang dana. Instrumen yang membutuhkan waktu lama untuk menganalisisnya tentu perlu dipertimbangkan oleh penyandang dana.

Penyelidikan dan Penetapan

Selama wawancara peneliti dapat menggunakan pertanyaan prompts atau probing. Ini membantu mengurangi kecemasan baik pada peneliti maupun partisipan. Tujuan probes adalah penyelusuran untuk menguraikan arti atau alasan. Seidman (1991 dalam Holloway & Wheeler, 1996) lebih memilih istilah menjelajahi dan tidak menyukai istilah menyelidiki (probe) karena menekankan posisi kekuatan pewawancara dan merupakan nama untuk instrumen yang digunakan dalam investigasi medis. Pertanyaan eksplorasi mungkin dapat digunakan, seperti apa pengalaman yang menyenangkan anda? Bagaimana perasaan anda tentang hal itu? Dapatkah anda ceritakan lebih banyak lagi tentang itu? Menarik sekali, mengapa anda lakukan itu?

Pewawancara dapat menindaklanjuti poin tertentu atau kata-kata tertentu yang diungkankan partisipan. Partisipan jadi lancar bila diminta menceritakan tentang suatu kisah, merekonstruksi pengalaman mereka, seperti hari, insiden, atau perasaan mereka tentang suatu penyakit.

Prompt non-verbal mungkin lebih bermanfaat. Cara berdiri peneliti, kontak mata dan condong ke depan akan mendorong refleksi. Sebenarnya keterampilan yang diadopsi dalam konseling yang telah dimiliki perawat akan mempermudah melakukan hal ini.

Tujuan penggunaan prompt atau probe ini adalah agar wawancara berjalan lancar dan memberikan rasa nyaman baik pada peneliti maupun partisipan tanpa keluar dari tujuan penelitian. Ini tidak lepas dari kemampuan pewawancara itu sendiri.

Seorang pewawancara yang baik harus mempunyai ketetrampilan komunikasi yang mumpuni. Ketetrampilan ini meliputi ketrampilan mendengarkan, menyusun kata (paraphrasing), probing, dan meringkas (Byrne, 2001).

Mewawancarai kolega

Banyak tenaga profesional kesehatan berminat terhadap pandangan atau pemikiran kolega mereka. Ada keuntungan dan kerugian dalam mewawancarai teman. Bahasa dan norma yang sama dapat menjadi keuntungan atau masalah. Menjadi keuntungan karena konsep lebih mudah dipahami oleh peneliti yang termasuk dalam kultur partisipan itu. Walaupun peluang misinterpretasi dapat berkurang, salahpaham dapat saja menimbulkan asumsi yang diperoleh dari nilai dan kepercayaan yang bersifat umum.

Menjadi masalah karena kadangkala pewawancara dari sesama kolega cenderung tidak menanyakan pemikiran yang dianggap umum atau tidak perlu ditanyakan lagi, walaupun sebenarnya data ini menjadi sasaran wawancara. Untuk menghilangkan hal demikian, peneliti perlu menanggulanginya dengan berperilaku atau menempatkan diri seolah orang yang berkultur asing atau pengamat yang naif dan bukan berasal dari latarbelakang yang sama dengan partisipan. Dengan demikian pemikiran yang belum tercakup atau gagasan yang mungkin tidak ditanya dapat diperoleh dengan bertanya pada partisipan tentang arti mereka dan untuk mengklarifikasi pemikiran mereka.

Pada banyak situasi wawancara dengan teman, peneliti dan partisipan berada pada posisi yang sejajar dan peneliti tidak asing dan bukan anonim. Ini merupakan keuntungan bagi partisipan.


Jika bermanfaat Silakan share di FB, Tweet maupun GPlus. Berikan saran, pendapat, kritik ataupun pertanyaan di blog ini lewat komentar Facebook atau Google



Jangan Lupa di Like Ya

×